Aku melihatnya di antara ribuan gemerlap bintang di setiap pekatnya malam
Di sudut ruang penuh penyesalan dan kegamangan
Aku merasakan hadirnya di antara taburan gemilang binalnya nafsu dunia seisinya yang sulit dipercaya namun menyakitkan adanya
Aku merangkulnya bahkan di tumpukan jerami bermandikan
lilin-lilin kecil bersahabat api yang kuresapi jilatan panasnya hanya
untuk menyelipkan kesan pengorbanan
Aku merasakannya di antara kilatan ingatan yang menggorok nadi
hingga tergenang darah tapi serasa hanya tergores kertas basah di
antaranya
Saatku mulai dihadapkan realita nyata aku hanya bisa melangkahkan
kaki untuk berlari sejauh mungkin hingga ku tak mampu lagi berdiri dan
menunggu perlahan terbunuh oleh pahitnya kenyataan yang membuatku
tercengang terbujur kaku
Ya memang kenyataan ini cukup membuatku tak lagi bernyali untuk
mendengarkan kalimat “Pergi dan tak pernah untuk kembali bahkan hanya
sekedar peduli?”
Aku juga melihatmu, Sayang.
Mungkin tidak pada bintang, namun di dalam kelopak mataku.
Menjamah setiap kurva sabit pada ujung bibirmu yang belakangan ini mengulum gelapku.
Aku juga merasakan presensimu, dalam setiap celah hangat yang banal.
Setiap gerecok lidahmu yang perlu diberangus.
Aku mengalami disekuilibrium moral.
Aku juga memelukmu. Rapuh, peluh, lenguh, penuh, jangan jenuh, jangan keruh.
Pinggangku akan menahanmu yang mempercepat langkah pergi.
Sayang, ada aku disini.