Minggu, 25 Agustus 2013

Thorn

Sakit memang, tapi aku bisa apa?
Merasakannya dari awal hingga rasa ini benar-benar terhujam, bukan?
Aku tak benar paham, ketika apa yang seharusnya bisa kita lakukan, namun semua hanya tertunda oleh ego waktu yang tak berperasaan.
Sekian lama, aku terdiam, termangu oleh keadaan yang semakin tak menentu.
Mungkin aku yang terlalu lemah, terlalu pasrah akan kehendak Tuhan yang tak jua mempertemukan.
Biarlah, mungkin memang sudah seharusnya berjalan begini.
Tapi sampai kapan aku akan terus menyerah dan pasrah akan keadaan?
Hati ini coba berontak, "kau tak boleh kalah", katanya.
Apadaya, mungkin memang lebih baik seperti ini.
Aku yakin, Tuhan akan memberikan jalan yang lebih terang kepada hambaNya yang rajin memintal tabah setiap malamnya.
Aku yakin.......

Senin, 19 Agustus 2013

Wall Camp, 18/08/13

Malam itu
Kala itu
Semilir itu
Remang itu
Teduh itu;
Matamu

Susunan elegi cermin
yang terbentuk sempurna
hingga tak ada yang
bisa mengandaikannya
tak ada yang bisa
menyamainya
teduh yang meneduhkan
segala liukan gundah
serta mendorong
aroma angin malam
yang meliukkan belulang
hingga bergetar beradu
dalam balutan tulang


-- apadaya, tak ada daya

semua daya hanyalah
milik Sang Mahadaya

Semilir Harahap

Gantungkan saja rindu
pada semilir malam,
meski tak berbintang
sekalipun, langit
masih terlihat terang
bukan?

lipatkan saja khayalanmu
beserta sisa-sisa ilu
di sudut sikutmu
jika terasa semakin ngilu;
simpan di sedakep tengkukmu
beserta dekapan angin
yang coba hangatkanmu
nikmati rasukannya;
hingga kau rasakan
sendiri mana yang disebut
ngilu dan mana yang disebut
rindu.

Kamis, 15 Agustus 2013

Pilu Yang Bajigur

Aku ingin menulis tentang sebuah 'papan'. Mungkin hanya sebuah rumah mungil nan usang yang sudah banyak sawang di setiap sudut ruangan. Dulu, pernah aku tinggal didalamnya, dengan personal menyenangkan yang saling membahagiakan memang. Namun itu tak bertahan lama, setelah penyusup menyelinap ke dalam hingga mencuri salah seorang liliput rumah dan meraib harta berharga yang tak ternilai harganya. Seisi rumah pun goncang dengan disertai teriakan yang menerka hingga merasuk dalam naungan jiwa. Abstrak, ya mungkin hanya itu perwakilan kata untuk menggambarkan suasana kehangatan yang tiba-tiba buyar. Hingga tak tahan, seorang liliput lainnya berhenti di titik penghabisan yang kemudian memutuskan untuk singgah ke bumi persinggahan yang lebih nyaman. Entahlah, apa yang membuat mereka begitu tega meninggalkan anak pinak yang telah mereka buat sendiri kemudian dengan mudahnya mereka buang pula tanpa ada sedikitpun rasa iba. Dan kini, semuanya sirna. Hanya ada sebuah penantian dan seonggok harapan untuk penerangan rumah yang dulunya menghangatkan.