Rabu, 15 Oktober 2014

S A N T I R

Pada waktu-waktu tertentu, aku sangat menikmati garis wajahku pada cermin. Mata nanar pekat berkelopak gelap yang lelah menatapku kembali. Ia ikut memiringkan kepalanya, menikmati rautku dalam damai.


Kau akan menikmati kekosongan ini sepertiku. Saat kau melewati sebuah sawang. Sunyi, singup, suwung, senyap, dimana sebenarnya kau tahu ada yang mengikutimu walau telingamu hanya mendengar derap kakimu sendiri. Entahlah, mungkin hanya karena kau tidak diberi bakat untuk mendengar yang jauh lebih berongga; yang lebih ringan. Kau mungkin akan memilih mempercepat langkahmu, mungkin berlari. Namun ia lebih cepat darimu, ia berada di sampingmu, bahkan mungkin ia hanya bisa menatapmu karena kau berbicara dalam bahasa yang berbeda, bersamaan dengan bulu kuduk pada tengkukmu yang meremang perlahan. Hai, mungkin ada yang menyapa.

Pernah mencoba bermain petak umpet? Yuk.
Kamu sembunyi, aku yang cari.


Undur diri,
Beberapa kali aku tertidur telungkup dalam lenganku setelah itu.

Rabu, 09 Juli 2014

Undur Diri

Aku melihatnya di antara ribuan gemerlap bintang di setiap pekatnya malam
Di sudut ruang penuh penyesalan dan kegamangan
Aku merasakan hadirnya di antara taburan gemilang binalnya nafsu dunia seisinya yang sulit dipercaya namun menyakitkan adanya
Aku merangkulnya bahkan di tumpukan jerami bermandikan lilin-lilin kecil bersahabat api yang kuresapi jilatan panasnya hanya untuk menyelipkan kesan pengorbanan
Aku merasakannya di antara kilatan ingatan yang menggorok nadi hingga tergenang darah tapi serasa hanya tergores kertas basah di antaranya
Saatku mulai dihadapkan realita nyata aku hanya bisa melangkahkan kaki untuk berlari sejauh mungkin hingga ku tak mampu lagi berdiri dan menunggu perlahan terbunuh oleh pahitnya kenyataan yang membuatku tercengang terbujur kaku
Ya memang kenyataan ini cukup membuatku tak lagi bernyali untuk mendengarkan kalimat “Pergi dan tak pernah untuk kembali bahkan hanya sekedar peduli?”

Aku juga melihatmu, Sayang.
Mungkin tidak pada bintang, namun di dalam kelopak mataku.
Menjamah setiap kurva sabit pada ujung bibirmu yang belakangan ini mengulum gelapku.
Aku juga merasakan presensimu, dalam setiap celah hangat yang banal.
Setiap gerecok lidahmu yang perlu diberangus.
Aku mengalami disekuilibrium moral.
Aku juga memelukmu. Rapuh, peluh, lenguh, penuh, jangan jenuh, jangan keruh.
Pinggangku akan menahanmu yang mempercepat langkah pergi.


Sayang, ada aku disini.