Pada
waktu-waktu tertentu, aku sangat menikmati garis wajahku pada cermin.
Mata nanar pekat berkelopak gelap yang lelah menatapku kembali. Ia ikut
memiringkan kepalanya, menikmati rautku dalam damai.
Kau akan menikmati kekosongan ini sepertiku. Saat kau melewati sebuah
sawang. Sunyi, singup, suwung, senyap, dimana sebenarnya kau tahu ada
yang mengikutimu walau telingamu hanya mendengar derap kakimu sendiri.
Entahlah, mungkin hanya karena kau tidak diberi bakat untuk mendengar
yang jauh lebih berongga; yang lebih ringan. Kau mungkin akan memilih
mempercepat langkahmu, mungkin berlari. Namun ia lebih cepat darimu, ia
berada di sampingmu, bahkan mungkin ia hanya bisa menatapmu karena kau
berbicara dalam bahasa yang berbeda, bersamaan dengan bulu kuduk pada
tengkukmu yang meremang perlahan. Hai, mungkin ada yang menyapa.
Pernah mencoba bermain petak umpet? Yuk.
Kamu sembunyi, aku yang cari.
Undur diri,
Beberapa kali aku tertidur telungkup dalam lenganku setelah itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar